- Back to Home »
- Dialog Pertama
Posted by : Unknown
Minggu, 10 April 2016
Sabtu, 21 Desember 2013
Udara malam mulai menusuk tulang. Rintikan air hujan
datang silih berganti membasahi jamper abu-abu yang ku kenakan. Riuh suasana
ramai memeriahkan malam itu. Tanah berlumpur mengotori kakiku, memijakkan
langkah kaki penuh kenangan. Masih kuingat betul malam itu. Malam dimana kita
memulai percakapan untuk yang pertama kalinya. Tempat dimana kenangan kita
ukir. Disebuah tempat dataran tinggi di kota yang kita tempati saat ini. Tempat
dimana angkatan kita melakukan event untuk pertama kalinya bagiku.
Kala itu seusai azan maghrib berkumandang, aku dan
teman-temanku bergegas mengambil air wudhu yang berada dibawah tepatnya didepan
basecamp putra. Sedangkan basecamp putri berada diatas dan harus melewati jalan
berlumpur yang baru saja diguyur hujan seharian ini, bahkan tetesannya pun
masih terasa sampai sekarang. Dengan mengenakan jamper abu-abuku ini kuberjalan
melewati jalan setapak menjejakkan langkah kaki. Teman-temanku mengenakan jas
hujan yang dipakai bersama-sama sedangkan aku berada dibelakang mereka dengan
langkah sangat hati-hati. Sesampainya ditempat wudhu, mereka pun berbaris
berjajar rapi untuk mengambil air wudhu secara bergiliran dan aku mengalah
berada paling belakang sendirian.
Dengan mendekapkan tangan ke tubuhku sambil sesekali
memperhatikan sekelilingku. Saat menatap ke sebelah kanan lalu memutar kedua
bola mataku ke sebelah kiri, aku pun terperanjat kaget. Kamu, berada tepat
disamping kiriku. Iya, benar itu kamu dan aku tidak mungkin salah lihat. Kamu
berdiri sendirian disampingku yang juga mendekapkan tangan ke tubuhmu itu.
Dengan senyuman polos kamu pun memulai dialog itu yang sebelumnya tidak pernah
kubayangkan dan kuharapkan sebelumnya. Dialog yang untuk pertama kalinya kita
lakukan di tempat bersejarah itu. “Itu lho pakai jas hujan, nanti kamu sakit.”
Satu kalimat pertama yang menunjukkan perhatianmu padaku yang cukup membuat
jantungku berdegup kencang. Dengan malu aku pun menjawab, “Nggak og ini udah
pakai jamper” Satu baris kalimat yang begitu saja kulontarkan dari mulutku ini.
Aku pun melanjutkan dialogku. “Yang ada kamu tuh yang sakit. Tangan kamu aja
gabisa buat push up gitu og.” Ya, perhatian yang kuberikan padanya itu mungkin
cukup membuatnya lega. Kamu pun membalas dialogku sambil tertawa kecil, “Hhm,
nggak og, udah sembuh.” Sungguh sebuah percakapan untuk yang pertama kalinya
terjadi. Ada kala disaat saling diam dan tak berkutik. Suara percikan air
terjun malam itu menambah ramai pembicaraan kita berdua. Aku pun meneruskan
dialognya, “Kamu udah sholat?” Kamu pun hanya menggelengkan kepala.
Berakhirlah sudah dialog pertama yang kita lakukan. Karena sudah banyak
teman-temanmu dan lain yang lalu lalang melewati kita. Aku tak ingin
disangka-sangka, dalam kegiatan seperti ini masih sempat untuk berduaan.
Sayang, terimakasih atas dialog pertama yang kau ucapkan itu. Jamper abu-abu
ini menjadi saksi peristiwa pertama kali dalam sejarah itu terjadi.