Posted by : Unknown Minggu, 10 April 2016



A
zura masih menikmati udara segar di sore hari yang menghembuskan rambut panjangnya itu. Diatas sepeda untuk berdua yang dikayuh Raka dengan ditemani langit mentari senja itu, Azura kembali membayangkan tentang apa yang terjadi selama satu tahun terakhir ini. Kebersamaannya dengan Raka, sahabat barunya sejak berseragam putih abu-abu itu semakin membuatnya tersenyum lebar setelah kesedihan yang dialaminya. Ya, Raka adalah alasan dibalik Azura tersenyum dan merasa bahagia dalam kehidupan ini. 

Berawal dari pertemuan singkat itu, Azura merasa hidupnya kembali sempurna dengan kehadiran Raka. Meski tidak sekelas, Raka selalu ada disamping Azura kapanpun dan dimanapun Azura berada. Dan meski rumah mereka tidak searah, Raka juga siap mengantar Azura pulang sekolah seperti sore hari ini. Mereka selalu bersama setiap saat, disekolah, belajar kelompok, jalan-jalan, dan apapun hal yang mereka lakukan selalu bersama dalam suka maupun duka. Raka kembali mengisi lembaran-lembaran kosong dihati Azura, melengkapi disetiap sudut otaknya, dan menjadikan Raka peran utama disetiap goresan tinta, jentikan jemari, dan bunga tidurnya. Disetiap kedekatannya dengan Raka, membuat Azura menuangkan segala inspirasi kedalam goresan tintanya. Disetiap pertemuan, pesan singkat, dan sapaan diujung telepon pun membuat Azura merasa ada yang melindungi dari kejauhan.

Terlebih saat kenangan yang mereka ukir bersama. Tidak jarang ketika hari libur tiba, mereka bersama teman-teman yang lain pergi ke pantai maupun ke gunung sekedar untuk menghilangkan beban. Setiap malam setelah belajar bersama, Azura dan Raka selalu bernyanyi dengan diiringi gitar milik Raka. Dibawah langit yang bertahtakan bintang-bintang, dan hembusan angin malam, jemari Raka beradu dengan senar gitar yang menghasilkan nada lagu yang begitu syahdu. Menyanyikan lagu kesukaan mereka, Raka yang pintar bermain musik dan Azura yang pintar menyanyi membuat perpaduan yang sangat khas diantara mereka. Terkadang tawa renyah mereka ciptakan dan memecah keheningan malam. Semua terasa begitu indah saat Raka berada disamping Azura. Azura masih ingat percakapannya dengan Raka disuatu malam yang membuat Azura sedikit sakit didalam.

“Hei, Zu.” ,panggil Raka sambil meletakkan gitarnya. “Hm, ada apa?” , jawab Azura. “Aku udah pernah bilang kan ?”, tanya Raka. “Bilang apa ?”. “Aku pengen kita galebih dari teman. Lebih pun cuman sahabat. Udah kan ?”. “Iya, udah kok. Tapi kamu janji yaa, kita harus selalu bareng-bareng terus.” ,pinta Azura sambil menatap Raka. “Iya iya, aku janji kok. Yaudah nyanyi lagi yuk..”. “Iya, ayuuk. A Thousand Year yaa..” . Suara mereka pun tenggelam dalam alunan gitar yang menghiaskan senandung malam hari itu.

Semenjak saat itu, Azura merasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Kenyamanan yang diciptakan Raka saat disamping Azura, segala perhatian dan bentuk rasa sayangnya sebagai sahabat, serta getaran hebat dalam hati Azura membuatnya semakin bertanya-tanya. Namun, Azura menyangkal untuk perasaan itu, dan menganggap Raka hanya sebagai sahabat saja. Dia anggap hanya sebuah ‘ketertarikan sesaat’ saja. Tapi, semua berubah ketika Raka tiba-tiba menghilang dari kehidupan Azura. Setelah ujian akhir semester kemarin, hubungan mereka semakin jauh dan semakin teramat sangat jauh. Kesepian Azura semakin menjadi-jadi ketika Azura mendapat berita dari temannya bahwa Raka lebih memilih teman sekelasnya daripada Azura yang selama ini selalu bersamanya. Azura lebih memilih diam dan memendam.

Sekarang tidak ada lagi pesan singkat, tidak ada lagi sapaan diujung telepon, tidak ada lagi goresan tinta tentangnya. Dan perlahan-lahan Azura menjadi seperti dulu lagi. Azura yang pendiam dan selalu melamun. Terlebih ketika Azura melihat kedekatan Raka dengan teman barunya itu yang melebihi kedekatannya dengan Raka. Setiap malam, Azura hanya bisa berdelusi tentang Raka, mencoba untuk melupakan segala sesuatu tentang mereka berdua. Tapi Azura tidak bisa melakukannya.

Satu bulan berlalu, dua bulan berlalu, tiga bulan pun mereka masih terpisah jarak dan waktu. Saat mereka tidak sengaja bertemu, Azura memalingkan pandangan dan pura-pura tidak tahu akan kehadiran Raka. Begitu sebaliknya, Raka juga terlihat cuek dihadapan Azura. Konflik batin yang dialami Azura semakin menjadi-jadi ketika masalah lain datang bertubi-tubi. Yang bisa dilakukan Azura saat ini hanyalah menunggu dan terus menunggu, berharap kehidupannya kembali seperti dulu lagi. Azura mencoba tetap tegar dihadapan teman-teman yang lain. Karena, tempat terbaik menyembunyikan tangisan adalah senyuman. 

Ketika ulang tahun Azura yang ke tujuh belas tahun, tanpa disadari Raka datang kerumah Azura sambil membawa cake, seribu burung kertas, dan satu toples kaca bintang kertas yang merupakan kesukaan Azura. Raka diam-diam memberi kejutan kepada Azura dihari ultahnya, dan berniat minta maaf atas peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini. Sambil mengusap air mata bahagia di pipi Azura, Raka mengungkapkan segala isi hatinya dan meminta Azura untuk kembali bersama dengannya seperti dulu lagi. Azura sangat senang sekali mendengar hal itu. Sekarang hidup Azura kembali bersama Raka dan mereka berjanji tidak akan berjauhan lagi tanpa alasan.

Azura tersentak dari lamunan ketika pedal sepeda yang dikayuh Raka tiba-tiba lepas dan hampir menjatuhkan Azura karena Raka ngerem mendadak. Sambil membenarkan pedal, Azura tersenyum sendiri dan masih berdelusi tentangnya dan tentang Raka.

“Sahabat sejati itu selalu dihati, yang selalu memberi tak berharap kembali. Sebagai kedua telinga untuk mendengarkan curahan hati, tanpa menceritakan kembali kepada orang lain. Yang selalu mengerti dan memahami, bukan hanya datang disaat butuh lalu pergi lagi. Yang selalu memberi pujian jika ia benar dan memberi kritikan atau saran jika ia salah, bukan tidak mau menanggapi dan mencaci maki. Yang selalu ada disisi, saling melengkapi, dan tidak mengingkari janji. Tapi, saya masih belum menemukan arti Sahabat Sejati yang sesungguhnya. Entahlah.”


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Ini Blog Tentang Cerpen - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -