Posted by : Unknown Minggu, 10 April 2016



Aku masih duduk memandangmu dari kejauhan. Kamu yang selalu hadir dalam ingatanku. Kamu yang selalu menghiasi disela-sela rutinitasku. Entah hal apa yang bisa membuatku seperti orang gila seperti ini. Perasaan yang datang tak tahu dari mana asalnya. Aku selalu berharap bisa berada disampingmu, Tuan. Apakah perasaan ini boleh kusebut “cinta”?? Ah.. masih terlalu dangkal untuk menyebut perasaan ini sebagai rasa (yang katanya) “cinta”.
 
Tak ingatkah kau saat pertama kali kita berdialog. Disaat yang lain asyik bergembira menyambut kemenangan lomba pada hari itu?? Kamu duduk tepat berada disampingku, hanya berjarak satu meter. Mungkin itu jarak terdekat yang pernah kita rasakan. Aku memulai percakapan yang tidak pernah kuharapkan sebelumnya.

O       :         (Menunduk sambil tersenyum)
S       :         “Kenapa, kak?”
O       :         “Gak kenapa-kenapa og. Malah seneng.” (Mendongakkan kepala dan berdiri)
S       :         “Semangat, ya, kak..” (Tersenyum)
O       :         “Iya.” (Membalas senyum sambil berjalan dan berlalu didepan mataku)

Sungguh, sebuah percakapan yang sangat bersejarah bagiku. Sesuatu yang masih kuingat (sampai sekarang). Disetiap pertemuan singkat yang terjadi, aku selalu mencoba untuk mengungkapkan lewat tatapan mata, sapaan hangat, dan senyum kecil dari raut wajahku. Terkadang, kamu pun membalas senyum itu dan membalas sapaanku. Setiap kamu berlalu didepan mataku, entah mengapa langkah kaki ini rasanya ingin berhenti untuk mendekapmu erat-erat. Menggenggam tanganmu dan merasakan pelukan hangat tubuhmu. Haha.. Tidak mungkin!! Apalagi saat ku dengar kamu sedang dekat dengan teman seperjuanganku. Taukah kamu, kalau kau sudah menggoreskan luka dihatiku. Terlebih disaat kamu berjalan berduaan dengannya pada malam hari di pameran itu. Hatiku tercabik-cabik tak membekas. 

Lewat kata yang kita layangkan dari pesan singkat, cukup membuatku tersenyum sendiri dalam diam.  Dirimu yang pernah menjadi peran utama dalam setiap goresan tinta di kertasku dan menjadi bagian cerita indah didalamnya, Kamu telah memikat hatiku dengan segudang harapan yang tak kumiliki sebelumnya. Tapi apa daya, hatimu  hanya untuknya. Dengan (sangat) terpaksa, aku berhenti mencintaimu. Mungkin aku memang ditakdirkan hanya untuk mengagumi (saja).

Kamu yang selalu menarik perhatianku disaat yang lain datang mengahmpiri hanya untuk menyakiti, singgah disana sini tanpa permisi. Aku masih ingat betul saat dimana kupandang wajah manismu itu. Wajah lugu berwajah oriental, banyak yang bilang wajahmu mirip dengan orang Cina, aku pun begitu. Dengan mata sipitmu, tas jinjing berwarna hitam, dan jaket berwarna hitam bergariskan biru itu menambah cirri khasmu, Tuan.

Memandangmu dengan samar dari kejauhan. Dirimu yang sedang mengenakan headset ditelingamu itu. Bersandar di tiang tembok seraya bermain handphone yang berada digenggamanmu itu.

Teringat disaat aku pingsan waktu kegiatan. Saat masih mendengar riuh suasana orang yang menggotongku ke mushola. Saat itu aku tak tahu siapa yang menggotongku. Terdengar desah suaramu saat kamu menyebutkan namaku. Ya, itu memang kamu, Mr.O. Kurasakan detak jantungmu, aroma harum segar tubuhmu, dan tepat aku berada dipelukanmu. Meski tidak sempat menjadi milikmu, setidaknya aku pernah merasakan pelukan hangat tubuhmu itu. 

Apakah kamu memang tidak mengerti? Atau hanya pura-pura tidak mengerti? Lalu selama ini disetiap pagi, disetiap kita tak sengaja berpapasan, aku selalu melayangkan tatapan mataku ini padamu. Tatapan mata penuh arti yang tak pernah kau ketahui dan kau mengerti. Tak ingat kah kau di kala senja hari itu, saat aku duduk disamping adikmu. Kamu menyanyikan sebuah lagu lucu. Petikan gitarmu, jemari yang beradu dengan senar, dan desah suaramu itu masih kudengar (sampai sekarang). Terimakasih atas semua kenangan yang pernah kamu berikan padaku. Mengagumimu saja itu sudah cukup bagiku.
Dari, Pemuja Rahasiamu
Yang selalu memandangmu dari kejauhan
Aku.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Ini Blog Tentang Cerpen - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -