- Back to Home »
- SayangKamuMumumuku
Posted by : Unknown
Minggu, 10 April 2016
Senin, 21 Juli 2014
Hari demi hari ku lewati denganmu atau tanpamu.
Denganmu, aku sangat merasa nyaman jika berada didekatmu. Tanpamu, aku sangat
merasa kesepian jika tidak berada disampingmu atau tanpa pesan singkatmu itu.
Kamu mulai mengisi lembaran-lembaran kosong
dihatiku. Melengkapi disetiap sudut-sudut otakku. Menemaniku disetiap pijakan
langkah kaki dan hembusan nafasku. Baik itu dalam lisan atau pun dalam bentuk
tulisan. Aku hargai itu. Berulang kali aku ucapkan terimakasih padamu yang
sudah membangkitkanku dari keterpurukan dan mengembalikan kembali inspirasiku.
Aku mulai mengubah perasaan kedalam kata-kata yang ku dapat dari tatapan mata
dan senyuman manismu itu.
Tidak semua orang dapat kumasukkan kedalam jentikan
jemariku seperti ini ataupun disetiap goresan tinta yang kuciptakan. Hanya
orang tertentu saja, orang yang special dan bisa kukatakan orang yang aku
sayangi. Termasuk kamu. Terlebih disaat kamu masuk kedalam mimpiku dengan
sejuta bayangan dan kebahagiaan didalamnya. Yang menciptakan sebuah impian,
harapan, dan kepercayaan.
Tak ingat kah kau? Tanggal 20, hari Minggu kemarin,
aku dan kamu berada dalam satu kendaraan. Dengan motor beat orange, celana
jeans coklat, dan baju lengan pendek berwarna orange bergambar komik itu yang
membuat daya pikatmu kepadaku. Dengan cirri khas dan tingkah lakumu itu, kita
menyusuri jalan gunung yang dipenuhi dengan kabut. Aku pun tidak ingin
melewatkan kesempatan itu. Aku mencoba berada dekat dibelakangmu. Sambil
memperhatikanmu dari belakang, mendengar alunan desah suaramu, dan menghirup
segar aroma tubuhmu itu. Ditemani sorot mentari pagi, hawa dingin pegunungan,
pepohonan rimbun, dan semerbak harum bunga didaerah pegunungan tersebut.
Aku sangat menikmati hari itu. Iya, sungguh. Aku teramat
sangat nyaman jika berada didekatmu.
Tapi apakah kau juga nyaman jika berada
didekatku?? Sepertinya tidak. Iya, aku tahu itu. Aku menyukaimu, tapi
sepertinya kamu tidak suka denganku. Kalau boleh jujur, aku tidak suka jika
melihat kamu bersama orang lain. Entahlah.
Terlebih disaat kamu tidak menyapaku sama sekali
hari ini. Saat latihan tadi, kamu lebih asyik dengan orang yang lebih dekat
denganmu daripada aku. Aku tidak ingin menyapamu, takut mengganggumu dan karena
kamu juga tidak menyapaku. Dengan sedikit tatapan mata kearahmu, menikmati
disetiap gerak-gerik yang kau ciptakan ditemani langit senja yang disertai
mega-mega sore tadi. Tak apa jika kamu bersama orang lain, karena memang pada
dasarnya kamu tidak suka dan tidak nyaman denganku bukan??
Sampai sekarang, kamu tidak pernah peka dengan apa
yang aku rasakan. Aku merindukanmu, aku menyukaimu, dan aku menyayangimu, tapi
aku tidak jatuh cinta padamu. Dan kamu tidak merasakan itu semua, tidak merasakan
getaran hebat di jantungku yang kuciptakan saat berada didekatmu. Saat bahu
kita bersentuhan, saat aku bersandar dipundakmu, saat kamu memegang jemariku,
saat semua itu kamu anggap hanya bualan saja.
Untuk yang kesekian kalinya, aku tersia-siakan lagi
dan kamu sudah menyia-nyiakanku. Apakah kamu juga tidak peka?? Disaat aku
sedang membutuhkan kedua telinga untuk mendengar, kamu hilang tak membekas.
Kamu datang hanya disaat butuh. Katamu aku sahabatmu. Katamu kamu peduli
denganku. Tapi apa?? Hanya omong kosong semata.
Tidak apa jika kamu hanya menjadikanku persinggahan
dan persimpangan jalan saja. Setidaknya kamu sudah menyamankanku dan pernah
duduk disinggah sana hati yang kosong ini. Setiap malam, aku selalu berdelusi
tentangmu. Baik itu dengan senyumanku, atau pun disetiap tetes air mata yang
jatuh dipipiku. Aku hanya membutuhkanmu, tidak benar-benar ingin memilikimu.
Aku hanya nyaman denganmu, tidak benar-benar jatuh cinta padamu. Aku hanya
merindukanmu dan menyayangimu, tidak benar-benar mencintaimu. Itu saja.
Jika kamu membaca jentikan jemariku ini, sepertinya
kamu tidak akan mengerti dan memahami disetiap kata yang terpampang didalamnya.
Iya, kamu memang tidak pernah mengerti dan memahami isi hatiku saat ini.
Sudahlah, aku sudah lelah dengan semua ini.
Aku menyukaimu, tapi
kamu tidak menyukaiku.
Aku nyaman denganmu,
tapi kamu tidak nyaman denganku.
Aku sayang kamu, tapi
kamu tidak sayang denganku.
Biarkan aku pergi
saja..
“Mungkin aku terlihat
berlebihan untuk perasaan ini. Tapi memang ini yang bisa aku lakukan. Mengubah
perasaan kedalam kata-kata. Semoga kamu mengerti dan memahaminya. Iya, semoga
saja.”