Posted by : Unknown Minggu, 10 April 2016



(18 Juni 2014)
Untuk pria berkacamata dan bunga mawarnya

Selamat siang, Tuan. Sudah lama kita tidak berkomunikasi lewat ponsel ataupun tatapan mata. Kamu yang pernah dan masih menarik perhatianku dengan segudang pesonamu yang tersembunyi dan tdak tersentuh juga jauh dari jangkauan mata itu. Kamu yang pernah mengisi hariku dan aku yang pernah menaruh harapanku padamu. Tapi itu dulu. Sekarang lebih baik aku menjadi pemuja rahasiamu saja. Seorang aku tidak pantas untuk mencintaimu bukan?

Pertama kali, bertemu kamu, aku tidak tertarik sama sekali dengan daya pikatmu itu. Setelah kuteliti dan ku rinci lebih dalam lagi. Ternyata kamu juga bisa menjebakku oleh tipu dayamu itu. Pria berkacamata dengan tas punggung berwarna hitam, dengan kepintarannya, dan terkadang kecuekannya yang menjadi ciri khas dan menjadi daya pikatku olehmu. Dulu, perasaan itu muncul dengan tiba-tiba. Apakah aku boleh menyebutnya jatuh cinta? Atau hanya ketertarikan sesaat? Memang masih terlalu dangkal untuk menyebut perasaan ini sebagai jatuh cinta. 

Kedekatan kita melalui ponsel, dengan pesan singkatmu yang pernah kubaca berulang kali membuatku yakin untuk menaruh harapan dan kepercayaan padamu. Tingkah konyolmu itu  selalu membuatku tersenyum diam-diam. Memang kamulah pria idaman wanita, Tuan. Disetiap pertemuan singkat yang tercipta oleh waktu, kusempatkan untuk menyapamu dan memberikan seserpih senyuman yang terlukis dari raut wajah jelekku ini, Dan aku pun sangat berterimakasih atas balasanmu yang sangat membuatku bahagia dan tersenyum lebar setelah mengukir kenangan denganmu.

Teringat saat-saat dimana kita sangat dekat, hanya berjarak beberapa senti saja. Saat dimana kita saling bertukar pandang. Ku tatap dalam-dalam sorot matamu dibalik kemilau kacamata minusmu itu. Samar terlihat, dengan logat khasmu itu yang masih terngiang ditelingaku sampai sekarang. 
Kupandang dan kuteliti setap detail raut wajahnya. Dibalik kacamata, terlihat jelas sorot matamu yang tertuju kearahku. Terlebih disaat kamu memintaku untuk mencarikan bunga mawar merah yang entah tak kuketahui tujuannya sampai sekarang. Saat dimana kita saling bercanda tawa, saling berbagi cerita meski hanya sebatas adik dan kakak kelas.

Bunga mawar merah itu pun menjadi saksi bisu atas percakapan panjangku denganmu. Disaat kamu memintaku untuk mencarikan bunga mawar merah dan (karena aku sayang kamu) aku carikan bunga mawar merah itu demi kamu. Ditengah panas teriknya matahari, dengan langkah gontai, kucarikan bunga itu dan akhirnya aku menemukannya. Lewat pesan singkat dan kode yang kau berikan. Kita akhirnya bertemu ditempat dimana terdapat bunga mawar yang tidak jauh dari rumahku. Dengan canda tawamu itu, ku pandang, ku tatap, dan ku lihat dalam-dalam. Kunikmati setiap detiknya. Adak ala disaat hening tak berkutik sama sekali. Aku pun tak ingin melewatkan kesempatan emas itu. Aku bertanya untuk apa dan siapakah bunga mawar yang ku carikan ini. Tapi kamu menjawabnya dengan tidak sungguh-sungguh, bahkan kamu bilang untuk seorang wanita yang kau cintai. Saat detik itu juga pupuslah harapanku untuk dapat memilikimu. Setelah beberapa jam berlalu, dan setelah kembali kerumah masing-masing aku ingin memastikan untuk siapa bunga mawar itu melalui pesan singkat. 

Dan ternyata kamu bilang bahwa itu hanyalah candaanmu saja, hanya bualan semata. Hatiku langsung lega membaca pesan singkat yang kamu balas itu.
Mungkinkah? Sepertinya aku sudah tidak mengaharapkanmu lagi. Ya, semoga saja.

Dari seseorang yang pernah mencarikanmu Bunga Mawar Merah

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Ini Blog Tentang Cerpen - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -